Sepenggal Dariku

Hanya lecutan-lecutan kecil di dalam kepala.

 

♠ BLACK WIDOW. Sudah berapa laki-laki yang kaujaring?

♠ Kusilangkan benang satu dengan yang lain. Membentuk jaring, untuk menangkap hatimu yang tercerai berai di berbagai tempat. Bisakah hatimu untukku saja?

♠ CEMAS. Semuanya sudah terjaring. Tinggal aku sendiri, satu-satunya perawan yang tersisa.

♠ IKAN. Di dalam wajan, perayaan ulang tahun pernikahan. Tahun lalu, aku dan suamiku mengikat janji. Pagi tadi kami terjaring nelayan.

♠ LELAH. Setelah bekali-kali terhindar dari jaring nelayan, kali ini aku makan umpan pancing.

♠ MANUSIA TERAKHIR. Bahkan jaring malaikat pun tak mampu menangkapnya.

♠ Penjaring. Wanita itu mengangkat jaringnya yang sudah penuh, lalu dihitungnya zakar yang didapatnya.

♠ Terakhir. Sudah semua? Ditutupnya jaring, lalu disimpan. Lelaki pergi meninggalkan perempuan-perempuan yang kehilangan sebagian hatinya.

♠ “Merah itu kamu.” Aku mengamati stoples merah berisi kamu.

♠ NERAKA! Jago merah mengamuk. Kota tertutup kabut. Orang-orang sibuk menyelamatkan harta benda. Aku menyelamatkan bayiku yang masih di dalam.

♠ Operasi plastik sukses. Hidungku mancung. Tapi kenapa merah sekali ya?

♠ SUSHI GIRL. Hidangan utama. Kuamati gadis di atas meja. Jantungnya masih merah.

♠ CERMIN PECAH. Ada warna merah di antara serpihannya. Aku telah membunuh saudara kembarku.

♠ BULAN MERAH. Terdengar lolongan panjang. Aku menatap kuku tanganku yang mulai runcing memanjang.

♠ Di pejagalan. Nonton Shaun The Sheep. Bulunya merah.

♠ LAUT MERAH. Ikan mati mengapung. Di antara jasad-jasad manusia. Begitulah bumi kita di abad mendatang.

♠ GAME KOMPUTER. Musuh bersembunyi di balik dinding. Aku harus hati-hati. Tiba-tiba ada yang meloncat di depanku. DOR! Layar komputer pecah. Aku bersimbah darah. Merah.

♠ KULEMPARKAN KARTU TERAKHIR. Blackjack! As keriting dan 10 diamond merah. Lalu kuledakkan kepalanya yang jadi taruhan.

♠ Kota semakin sepi. Penduduknya satu persatu hilang. Istriku kekenyangan. Bibirnya memerah.

♠ Andaikan aku tak membalas senyum di bibir merahnya, dia tak akan pernah masuk ke dalam kepalaku sekarang.

♠ Hujan bercerita, tentang kristal cantik di awan yang membuatnya menangis karena cemburu. Cerca halilintarpun tak digubris.

♠ Gelak tawa bocah berderai seirama hujan. Satunya pucat dan botak. Yang lain punya kaki sebatas paha.

♠ Hai kamu yang tak pernah menegurku. Masih anggap aku seseorang?

♠ Embrio dalam jiwa, yang kalau tumbuh akan menjadi cemburu yang luar biasa.

♠ Kamu cabut karena nyalimu ciut, dan karena kamu terlalu pengecut. Hai kamu yang diam tapi licik seperti celurut. BUJUT!

♠ SUDAH MALAM. Kukeluarkan sayap dari punggungku, dan aku terbang menembus bulan.

♠ BEDA. Aku malam. Kamu siang. Tak dapat dipisahkan. Saling cinta.

♠ MALAM TERLALU GELAP. Bulan minta padaku seribu lilin untuk membantunya bersinar.

♠ KUOLESKAN KUTEKS FLUORESCENCE. Nanti malam, aku bisa menangkap mangsaku dengan tepat.

♠ CATATAN SI PEMBUNUH. Sembilan nama sudah kucoret. Tinggal satu orang. Nanti malam gilirannya.

♠ PEREMPUAN MALAM YANG AKU CINTA. Aku akan melamarnya dan membawanya pada siang.

♠ BULAN PURNAMA. Aku keluar. Kuketuk nisan sebelah. Ayah keluar. Kami berdua pun makan malam.

♠ KIAMAT. Matahari menyinari malam, dan bulan menguasai siang.

♠ DEWI MALAM. Pekerjaannya mengecat langit dengan warna hitam, lalu ditaburinya dengan glitter. Mereka bilang itu bintang.

♠ BULAN SEPARUH. Yang separuhnya lagi kubayarkan ketika penghulu mengucapkan “Sah!”

♠ CINTA YANG TERPENDAM. Kugali bumi dengan tanganku. Berharap menemukanmu di bawah sana.

♠ PANAH. Kulihat Cupid menarik tali busurnya. Semoga sasarannya tepat.

♠ NYICIL. Kamu sudah dapat hatiku. Tubuhku nanti ya, menyusul.

♠ MELENYAPKANMU. Kupencet tombol off. Sinarmu padam.

♠ AYAH, GELAP! Aku berdiri, kusentil awan mendung pergi. “Sudah terang?” “Sudah!” jawab anakku sambil menengadah menyambut sinar matahari.

♠ PASANGAN BUTA. Mereka saling jatuh cinta pada sinar aura masing-masing.

♠ PESTA BERAKHIR. Ketika sinar pagi terbit, para hadirin satu persatu meleleh.

♠ PEJUANG CINTA. Setengah mati aku tahan matahari agar tetap bersinar, supaya kekasihku tak harus berubah menjadi srigala.

♠ ADIK. Perut Ibu memancarkan sinar.

♠ SINAR MATAHARI MENGHILANG. Kiamat? Bukan! April Mop!

♠ AYAH. Kulihat dia dari balik jendela. Sayap di punggungnya mengembang. Sinar membentuk lingkaran di atas kepalanya.

♠ MATI. Sinar lampu sepeda motornya padam. Jiwanya melambaikan tangan pada raga yang tertinggal di bawah truk.

♠ ULANG TAHUN PERKAWINAN. Ibu memasak kue. Kuamati patung boneka yang dipasang Ibu di atasnya. “Sejak kapan Ayah mematung begitu, Bu?”

♠ SUP TOMAT. “Supnya enak sekali, Bu. Kuahnya merah,” pujiku. Kulihat muka Ibu yang memutih.

♠ ENAK. Wah, masakanmu sedap sekali, sampai-sampai lidahku pun ikut tertelan.

♠ LAPAR. “Bu, lapar,” kata anakku. Aku memasak. Usiaku berkurang.

♠ “Bu, masakannya kurang pedas.” Lalu kutampar dia dengan sandal jepit.

♠ SUDAHKAH KAU PIKIRKAN MASAK-MASAK? Kepalaku mengepulkan asap.

♠ INGIN RAMBUT. Adik merekatkan mie gorengku yang baru matang ke kepalanya yang botak.

♠ RUJAK. “Mau bikin apa?” “Rujak.” “Asik. Buahnya apa aja?” “Buah dada.”

♠ CEPLOK. Ada matahari di piringku. Ibu memasaknya pagi-pagi sebelum dia terbit.

♠ BELUM MASAK. “Bu, Ibu belum masak, Bu?” tanyaku. Ayah menepuk jidatnya. “Aduh, lupa servernya belum Ayah hidupkan.”

♠ LOMBA MASAK. Semua bahan sudah tercampur menjadi satu, temasuk juri dan penonton.

♠ SATE. Kulahap potongan terakhir. Kulihat Ibu berbalik. Punggungnya berlubang.

♠ GADO-GADO. Ada Tono dan Ani di piringku. Yanti juga ada, yang kalau siang bernama Yanto.

♠ SELESAI MAKAN. Aku berterima kasih pada yang sudah memasak untukku. Panci, sendok dan pisau mengangguk dan tersenyum padaku.

♠ BELANJA. 50 milyar detik masa kanak-kanak untuk anakku. 20 milyar detik masa pensiun untuk ibuku. 100 milyar detik kebersamaan untuk kita. Belanjaanku sudah lengkap.

♠ CUACA EKSTRIM. Panas. Detik berikutnya hujan. Detik berikutnya lagi bersalju. Lalu tiba-tiba panas lagi. Bumi kita terlempar jauh dari orbitnya.

♠ MENGHITUNG UMUR. Kususun semuanya di atas meja. Detik dengan detik, menit dengan menit, jam dengan jam. Kucoba meneliti seberapa banyak yang hilang.

♠ TERLALU RAMAI.
Kupencet tombol mute. Detik berikutnya semua orang mendadak bisu.

♠ PERETAS USIA. Dia berhasil memecahkan password. Sekarang dia mencuri sedikit demi sedikit detik usiaku.

♠ BARU DETIK KE SEPULUH. Kekasihku sudah hamil yang kedua.

♠ DETIK-DETIK PENYELAMATAN. Ayo cepat, selamatkan yang masih hidup! Jangan biarkan mereka mati seperti kita kemarin.

♠ PENJUAL. Bu, Ibu jadi mau beli waktu ndak? Gratis perpanjang usia 60 detik.

♠ JAM. Suara detik. Seirama detak. Kubanting ke sudut ruangan. Seketika irama jantungnya juga berhenti.

♠ SANG PENYANYI. Dia berdiri di atas panggung. Detik demi detik berlalu. Senyap. Pita suaranya kuambil.

♠ KALAH. Ayo, cepat kocok dadunya! Aku ingin rambutku kembali!

♠ MAUT DATANG. Cepat! Masih ada dua helai uban di kepala Ibu. Cabut! Dan dia tak akan jadi datang.

♠ KANGEN. Kugenggam tangan Ibu. Tanah telah membuat rambutnya semakin panjang.

♠ KE MANA RAMBUTMU? Kujual. Lalu kubelikan sepasang jepit rambut berlapis emas.

♠ ORANG KAYA. Ibu mengikat rambutnya dengan uang kertas.

♠ Ibu bingung memunguti rambut yang berceceran di meja makan. “Ibu! Tolong keluarkan aku!” teriakku dari dalam botol kecap.

♠ BEKAL. Jangan lupa bawa sisir. Aku tak mau rambutku kusut di dalam tanah nanti.

♠ BERKUNJUNG ~ Cepat! Ibu mertua mau datang! Aku segera menyembunyikan pasung suamiku.

♠ BERENANG ~ Hey! Kita salah arah! Seharusnya kita bawa GPS. Sperma-sperma itu berbalik arah.

♠ PULANG ~ “Ayo pulang,” ajaknya pada hatiku. Tunggu! Tubuhku masih di bawah lelaki itu.

♠ TELEVISI ~ Mataku nanar. Ayah? Dan kulihat Ayah mengacungkan remote ke arahku sambil memperbaiki sikap duduknya.

♠ BERINGIN ~ Tiba-tiba ada tangan menggapai-gapai di antara akar gantungnya. Mencari pegangan.

♠ KAKI – Sedia kaki second. Masih utuh. Kondisi 90% mulus. Hubungi Rumah Sakit Bedah Sehat Sejahtera.

♠ KAKEK ~ Dia yang selalu berjalan di belakangku. Dengan kembangan sayap di punggungnya.

♠ MALAM ~ Kumatikan lampu dan aku masuk kembali ke cangkang telurku. Selamat tidur!

 

Baca fiksimini yang lain juga di sini ya ^__^

Advertisements

6 thoughts on “Sepenggal Dariku

  1. Dear mak-min Carolina Ratri, perkenalkan saya iqbal rekarupa
    tinggal di Yogyakarta dan mjd salah satu pengurus asosiasi desainer grafis indonesia Yogyakarta Chapter. bila diperkenankan saya minta CP (no HP & email) panjenengan. maturnuwun 🙂

    note: HP saya: 081 7941 7881

    Like

Komennya dong, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s