Surat dari Ibu

“Sedang melihat apa, Sayang?”

Gadis kecil itu menoleh. Sejenak perhatiannya teralihkan dari warna gelap di luar jendela yang sejak tadi diakrabinya. Ia tersenyum, memunculkan dekik mungil di pipi kirinya. Matanya mengerjap, mengedipkan sinar jenaka.

“Bintang, Ayah.”

Sang Ayah lantas duduk di sampingnya. Kursi dari bambu berkeriut sedikit menahan beban tambahan. Berdua mereka memandangi objek yang sama. Read more

Antara Rambut, Mara, dan Yudhis

Urgh! Ini enggak banget! Sungguh, enggak banget!

Mara mengacak-acak rambut hitam panjangnya. Here we go, girl’s bad hair day! Oh, betapa menyebalkan! Dia terlihat seperti seekor singa jantan pagi ini.

Rambut Mara sebenarnya panjang dan indah. Berwarna hitam pekat, sewarna dengan matanya. Dengan hidungnya yang mancung, Mara sepintas lalu seperti gadis keturunan Arab. Eksotik.

Tapi dia sama sekali tak merasa cantik. Apalagi, kalau lagi kena girl’s bad hair day begini. Ini adalah hal menyebalkan kedua setelah datang bulan. Read more

Aku, Kinanti

Kira-kira sepuluh jam yang lalu sebuah nomor tak dikenal menghubungiku. Dan telepon itulah yang membuatku berada di atas kereta api malam ini.

Iya, kalau tak karena telepon itu, dan juga permintaan Ibu, aku tak akan berada di entah ratus kilometer dari kotaku menuju Jakarta. Aku menyandarkan kepala ke bahu yang ada di sampingku.

Semua berawal saat lelaki kesayangan itu memintaku untuk menjadi yang terakhir dalam hidupnya.

Malam kemarin, aku dan Riko duduk berseberangan meja dengan Ibu. Tiga cangkir teh dan sepiring martabak manis ikut menemani. Saat aku rampung menghidangkan semua, saat itu pulalah Riko selesai mengatakan apa maksud kedatangannya pada Ibu. Ah, resmi sekali. Padahal mereka sudah biasa bertemu, dan selalu saja bercanda satu sama lain. Sekarang jadi kaku begini, dan entah kenapa, kulihat lidah Ibu menjadi lebih kelu daripada biasanya.

“Sudah kaupikirkan baik-baik?” Read more

Mimpi Sang Presiden

Sejak Presiden baru terpilih dan masuk ke Istana Negara, suasana jadi berbeda. Baiklah, mungkin semrawut akan lebih cocok. Sudah sebulan dia terpilih menjadi orang nomor satu di negeri ini, dan sudah sebulan pula dia berkantor di Istana Negara yang berada di jalan paling ramai di Ibu Kota.

Dan, waduh! Dia itu ternyata rewel sekali. Jadi Presiden kerjaannya cuma mengurusi baju para karyawan Istana Negara. Dia memeriksa sendiri apakah potongan rambut para karyawan laki-laki pendek tidak melebihi kerah baju. Dia memeriksa sendiri apakah kemeja para karyawan dimasukkan ke dalam celana masing-masing. Dia juga menyuruh para karyawan untuk menyemir sepatunya masing-masing sebelum berangkat bekerja. Ya, sebelum berangkat bekerja. Tepat sebelum berangkat bekerja. Mereka tidak boleh beralasan, bahwa sepatunya sudah disemir seminggu yang lalu. Atau sepatunya sudah disemir kemarin. Harus tepat sebelum berangkat bekerja, mereka harus menyemir sepatu masing-masing. Read more

Pesan Terakhirku sebelum Waktuku

Jadi begini, Bu.

Aku sudah tak sabar.

Berapa lama lagi? Berapa hari? Atau mungkin malah, berapa jam?

Aku juga tak tahu persisnya.

Banyak yang ingin kuucapkan padamu, tapi sepertinya … Ah, Ibu selalu tahu apa yang kupikirkan. Jadi apa maksudku, kau, Bu, kurasa pasti sudah tahu.

Baiklah. Mungkin memang hanya dalam hitungan jam saja lagi, dan aku akan bertemu denganmu. Oh, Bu. Bagaimana perasaanmu? Jangan tanya perasaanku, karena… Aku tak tahu dengan apa lagi perasaanku ini bisa kulukiskan. Read more