#Cerfet #MFF: Menjejak Memori

 

cerita sebelumnya

 

Ruang tengah sebuah rumah.

Dilengkapi perabotan bergaya klasik, membuat interior ruangan menjadi begitu elegan. Mengingatkan akan ruang-ruang yang sering difoto untuk kemudian dimuat di dalam majalah interior luar negeri.

Saat itu hanya ada hening. Hanya terdengar suara gelembung-gelembung air dan deru lembut mesin filter di akuarium besar yang terletak di salah satu sudut ruang. Ikan-ikan hias yang ada di dalamnya pun seakan ikut merasakan ketegangan yang menjalar.

Malinda duduk tegak, menghadapi map plastik di atas meja kopi di ruang tengah yang luas.  Tangannya memegang satu helai kertas, sedangkan beberapa kertas lain berserakan di atas meja. Secangkir kopi lampung yang hanya tinggal seperempat terpisah jauh dari alas piringnya.

Hadi melaksanakan tugasnya dengan baik.

Malinda bertahan dalam posisi begitu dalam beberapa belas menit. Tiba-tiba diraihnya gagang telepon yang berada di atas meja kecil di samping sofa yang didudukinya.

0361 895 7771. Diamatinya angka-angka itu.

Dipencetnya deretan nomor seperti yang tertera di atas kertas. Lalu gagang itu didekatkannya ke telinga.

Dia menunggu dengan berdebar.

“Halo?” Read more

Cerfet #MFF: Cerita yang Tersimpan di Sudut Hati

Cerita sebelumnya.

Meskipun aku tahu mama adalah masa lalumu, tak akan kuserahkan kamu begitu saja padanya.

Dio masih saja tepekur menatap huruf-huruf yang berjajar di layar smartphone-nya. Perlahan diusapnya, seperti hendak membersihkan debu yang mengotori layar. Dio tiba-tiba merasa ada sesak di dada.

Hingga ada sentuhan lembut di punggung tangannya.

“Dio…” panggil Ratih perlahan.

Seketika Dio seperti ditarik kembali untuk melompat-lompat dalam pusaran waktu. Ketika dua pipi merona itu dielusnya. Ketika dua mata berbulu mata lentik itu dia kecup. Ketika dua bibir itu merapat ke bibirnya.

“Ada apa?” tanya Ratih hati-hati.

Ah, lelaki ini tak banyak berubah. Hanya warna putih pada pangkal rambut di pelipisnya saja yang membuatnya tampak berbeda dengan dia … berapa tahun? Duapuluh tiga tahun yang lalu? Wow, sudah begitu lama. Seperti mimpi. Read more

Tunas Cinta yang Patah

Duet with Attar Arya

 

 

ARIMBI

Rasanya napasku sudah mau putus!

Sial! Nggak akan gue lepas! Orang itu belum tahu dia berurusan dengan siapa. Arimbi! Awas, kalau tertangkap! Bakal jadi dendeng dia!

Damn it! Cepat juga larinya. Sepertinya aku nggak akan kuat mengejar. Aku memandang sekitarku. Aha! Tak jauh, sebuah sepeda motor terparkir manis di pinggir jalan. Dengan cepat, aku berlari menghampiri cowok yang sedang nangkring di atasnya.

“Eh. tolongin gue! Cepet, kejarin orang bertopi biru itu!”

Dengan cepat pula, aku meloncat ke boncengan. Dia nampak tergeragap.

Lah… Dan bukannya segera melarikan motor, dia malah menoleh lalu memandangku dengan aneh. Aku juga jadi menatapnya sambil membelalakkan mata.

Etapi… hmm. Ganteng juga yak?

Etapi lagi… ARRGGHH!! Itu orangnya keburu kabur!!! Read more

Cerfet #MFF: Sang Orion

Cerita sebelumnya.

Orion Enterprise.

Semua orang sibuk. Dari mulai Runner hingga Event Manager hilir mudik bak semut yang sedang bekerja mengusung butiran gula. Tak heran, mereka sedang dalam masa menjelang terselenggaranya sebuah acara pesta musik jalanan. Bukan event untuk selebritas, bukan untuk artis papan atas. Seluruh musisi jalanan dan grup band indie dari seantero negeri datang membanjiri kota. Para pelaku seni yang setiap hari mendedikasikan hidupnya, semata-mata untuk musik sebagai idealisme diri mereka.

Siapa tak kenal Orion Enterprise? Event Organizer nomor satu di negeri ini. Mengkhususkan diri pada event-event di dunia showbiz. Dari yang komersil hingga idealis. Semua event musikal, sukses mereka tangani. Beberapa memang diwarnai keributan. Tapi tak pernah terlalu parah hingga harus menuai caci. Mereka selalu cerdik memoles media, agar tak terlalu menggembar gemborkan apa yang tak perlu dibawa ke publik. Read more

Cerfet #MFF: Rinai Hujan Sore Itu

 

Gerimis.

Seakan mengaminiku yang berbalik dan berjalan memunggunginya. Bahkan ia turun semakin deras, seiring bertambah cepatnya aku melangkah. Aku berlari, dan semakin cepat. Berpacu melawan keinginan diri untuk menoleh lagi padanya.

Namun, aku tak kuasa menolak keinginan hati untuk menoleh sekali lagi ketika sampai di ujung pintu masuk peron. Dia masih di sana. Sisi hatiku seperti merapal mantra untuk membuatnya berlari menyusulku, dan mungkin lalu memelukku. Merengkuhku erat, seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya.

Tapi tidak.

Dia berdiri mematung di sana. Membeku dalam kebencian padaku, dan mungkin pada dirinya sendiri. Kulihat sosoknya yang atletis. Dada bidangnya, tempat aku menyandarkan kepalaku ketika aku sedang membutuhkan penghiburan, dan juga pundak kokohnya tempat aku biasa menumpahkan air mata. Tapi tak ada yang dilakukannya. Hingga akhirnya malah menguatkan tekadku untuk kembali berjalan lurus ke depan, dan bukan berbalik dan berjalan kembali ke arahnya. Read more