Kisah Pak Darmo sang Kusir Delman

Jogja di siang hari.

Panasnya begitu terik menyengat.

Pak Darmo, seorang kusir delman, menghela Jargo si kuda berwarna putih perlahan menyusuri Jalan Malioboro. Sepagian baru ada dua rombongan wisatawan berhasil mereka dapatkan. Maklumlah, belum waktunya liburan, juga masih pagi. Masih pukul sepuluh. Tampaknya wisatawan pun juga belum ingin beranjak dari kamar hotel masing-masing.

“Duh, panasnya!” ujar Pak Darmo. “Sepertinya hari ini akan panas sekali, Jargo.”

Jargo meringkik pelan. “Tak apa, Pak. Kan kita harus mencari uang untuk Kusno.”

Iya. Kusno, anak satu-satunya Pak Darmo, masih duduk di kelas dua SD. Saat ini masih menunggak SPP. Karena itulah Pak Darmo, dan juga Jargo, harus bekerja keras Read more

Kemenangan bagi Alya

Pada suatu ketika di Negeri Katak diadakan sebuah sayembara.

Barang siapa mampu memanjat sebuah menara yg tinggi di tengah kota akan mendapatkan sekantong uang emas.

Semua katak muda di negeri itu begitu antusias mengikuti sayembara, termasuk seekor katak kecil yang hidup di pinggiran negeri itu. Baru beberapa meter menanjak, beberapa ekor katak jatuh ke bawah. Satu per satu katak mulai berjatuhan, hingga akhirnya tinggal tiga katak yg tersisa.

Saat itu penonton berteriak, “Puncak menara itu terlalu tinggi. Mustahil kalian bisa mencapainya!”

Katak yang telah jatuh pun ikut berteriak, ”Dari ketinggian tiga meter saja badanku sudah sakit semua, apalagi jika jatuh dari puncak menara itu. Aku tak bisa membayangkannya.” Read more

Rahasia Alicia

 

Ibu berdiri di teras dengan gelisah.

Sudah jam setengah tujuh malam, dan Alicia belum pulang juga. Merasa capek mondar mandir sendiri, Ibu akhirnya masuk.

“Belum pulang juga ya?” tanya Ayah dari ruang makan.

“Belum. Ke mana sih Alicia? Sudah tiga hari dia selalu pulang ketika hari sudah gelap.” Ibu menghempaskan diri ke sofa di depan TV. “Kamu bener nggak tahu, Alicia ke mana, Ri?” tanya Ibu kemudian kepada Rian yang sedang asyik main video game.

“Nggak tahu, Bu. Kalau pulang sekolah, Alicia selalu sudah pulang duluan. Rian cuma tinggal sama Devon dan Bama saja, bertiga pulang,” jawab Rian sambil tetap main video game.

“Kamu juga nggak pernah nanya sama Alicia, dia ke mana?”

“Udah, Bu. Tapi Alicia diam saja. Yaaaahhh… Ibu! Rian jadi kalah deh,” sungut Rian sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Ibu masih tampak gelisah. Read more

Celengan Dzaki

Suara deru mobil memasuki halaman rumah. Ibu yang sedang menyiapkan makanan berbuka puasa agak menggeragap, lalu menengok ke arah jam dinding.

Pukul 17.00.

Hari pertama puasa, selalu masih repot penyesuaian kebiasaan sehari-hari. Tapi, untunglah semua sudah siap, tinggal sedikit lagi.

“Ayah pulaaaang…!” teriak Nabila dari ruang depan. Ditinggalkannya buku mewarnainya, lalu berlari menyongsong Ayah yang baru pulang dari kantor.

Dzaki, yang sedang khusyuk nonton TV, juga dengan cepat berdiri dan ikut berlari menyongsong Ayah, mengikuti Nabila yang sudah lebih dulu keluar.

“Ayaaahhh!” teriaknya.

Begitulah kebiasaan mereka, selalu heboh ketika menyambut Ayah pulang. Tapi sekonyong-konyong Dzaki memperlambat laju larinya. Dilihatnya ada sesuatu di tangan Ayah. Oh… dan juga di tangan Nabila. Sesuatu yang dibungkus tas plastik warna hitam. Lumayan besar ukurannya.

“Nih, Dzaki, buatmu satu,” kata Ayah sambil mengulurkan tas plastik itu pada Dzaki. Dzaki menerimanya dengan penasaran. Apa ya ini? Dia melongok ke dalam tas plastik tersebut. Read more

Derek Baik Derek Nakal

Derek adalah seekor anak naga lucu dan pintar. Dia banyak akal dan selalu penuh ingin tahu akan hal-hal di sekitarnya. Ibunya sangat menyayanginya.

Suatu hari, Mak Daga, ibu Derek, menyuruhnya untuk mengantar roti dan kue-kue ke rumah Paman Dopi Beruang.

“Derek, tolong antarkan roti dan kue ini ke rumah Paman Dopi Beruang ya..”

Mak Daga memberikan keranjang penuh berisi roti dan kue kepada Derek. Dari keranjang itu tercium bau roti dan kue yang enaaaakkk sekali. Derek menciuminya dengan penuh minat.

“Derek… itu untuk Paman Dopi ya… Sekarang tolong diantarkan ya…” kata Mak Daga.

“Baunya enak sekali, Mak…” kata Derek. Read more