Pemenang #PestaFiksi08: Sup Ayam Kuah Sumpah Serapah

Halow!

Aduuuh! Muuph semuanya. Baru bisa ngumumin sekarang nih. Saya so-so sibuk biyanget kemarin. Hahahaha.

Iyain aja ya. Biar cepet.

Jadi, cuma 7 karya aja sih yang kemarin masuk. Enggak apa-apa. Tetep seru sih, soalnya ceritanya pada keren-keren, hingga membuat saya migren.

But, akhirnya ini dia cerita favorit saya.

Selamat ya!

 

24331649_2017744111791732_6154063187361660928_n

Sup Ayam Kuah Sumpah Serapah

Oleh: Marina Yudhitia

“Dasar sial! Kau manusia terkutuk!” Narti berbisik di atas panci yang tengah diaduknya, yang berisi sup ayam kesukaan sang suami. Tapi Narti bukan sedang merutuki suaminya. Ia hanya mengulang persis kata-kata yang dilontarkan lelaki itu kepadanya beberapa menit yang lalu.

Setelah puas memaki-maki Narti, suaminya akan lantas kelaparan dan selalu meminta dibuatkan sup ayam. Sambil menangis diam-diam, Narti toh tetap mengabulkan perintah itu. Memasak sup ayam untuk suami yang dicintainya, yang entah apakah balik mencintainya.

Bagi Narti, siksaan fisik mungkin berkali lipat lebih baik. Jika dibandingkan menerima cacian yang menusuk hati setiap hari. Di hari-hari itulah sup ayam selalu tersaji. Semakin dibisiki sumpah serapah, semakin enak ternyata rasa sup ayam buatan Narti. Setidaknya itu menurut sang suami.

Alhasil sup ayam Narti serupa candu. Seiring suaminya yang juga tambah ketagihan mengumpat Narti. Sampai sehari tiga kali. “Kau wanita rendah! Hina! Nista! Lapuk!” Seperti kesetanan suaminya melahap habis semangkuk besar sup ayam yang masih panas. “Ini sedap, Narti! Sungguh nikmat! Hahaha!”

Sampai suatu waktu sang suami melepaskan kebun binatang kala memanggil Narti. Nama istrinya berganti setiap kali. Anjing, monyet, babi, dan banyak lagi. Narti lelah menahan diri. Seraya mengaduk kuah sup ayam yang asapnya mengepul, Narti berteriak membuncahkan segala kotoran yang selama ini mengganjal di kerongkongan.
Sang suami yang tengah tertidur sontak terbangun dan mendapati sup ayam Narti telah terhidang menggugah selera.

Tanpa menunggu lebih lama, ia segera menghabiskannya sampai tandas tak bersisa. Menyeruput kuah sup itu sampai licin mangkuknya.

“Bumbu apa yang kautambahkan, Narti? Sup kali ini paling lezat di antara…”
Suaminya tiba-tiba tersedak dan mulai terbatuk-batuk. Ia memegangi lehernya yang seakan tercekik. Lalu ia terjatuh dan menggelepar-gelepar di lantai.

Narti memejamkan matanya. Bulir-bulir tangisan jatuh begitu deras. Namun ia membuka mulutnya lebar-lebar dan tertawa bahagia.

Saya suka rasa ironic yang tersirat dalam cerita ini. Dari awal sampai akhir, sarat dengan nada satir yang sangat ironis. Pun ceritanya nggak lebay, sedikit surreal, nggak boros kata dan langsung mengikat di pembuka.

Good job!

Dan, Mbak Marina kemarin juga memenangkan cerita favorit di Flashfiction Parade, yang buku hadiahnya juga belum saya kirimkan. Jadi, nanti saya kirimkan sekalian yah.

Terima kasih banyak semua yang udah ikutan.

Sampai ketemu di #PestaFiksi selanjutnya!

Advertisements

Komennya dong, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s