Smoothie Stroberi

19954942_1503972059646548_4651110682878541824_n
Sketsa by Carolina Ratri

 

Smoothie stroberi tersaji di depanku. Kutatap buih-buih putih bak racun menyela di antaranya. Pula ada butiran halus hitam di sana sini. Ada satu (atau dua atau tiga) bintik hitam lain di permukaan.

Lalu kuingat rasa asli stroberi yang asam, yang telah menipuku. Rasa stroberi itu tak pernah manis. Semua es krim, puding, permen rasa stroberi itu palsu! Stroberi tak pernah semanis itu.

Lantas kulihat gerobak sampah lewat di depan kafe. Mataku menangkap tumpukan stroberi busuk menggunung. Merah tua, menghitam, tampak lembek dan lengket. Bahkan berlendir.

Sontak aku berdiri. Punggungku tiba-tiba dingin. Pelayan kafe menatap heran, menerima uangku yang kuulurkan dengan tangan gemetar, dan mengarahkan pandangan ke smoothie stroberi yang masih utuh.

Aku tak pernah suka stroberi.
Mereka palsu, seperti halnya bibirmu yang selalu manis tapi ternyata tak hanya untukku. Aku ingat pelacur-pelacurmu, yang kaubawa kemarin malam dan malam-malam sebelumnya.

Aku tak pernah suka stroberi.
Mereka merah tua, lembek dan lengket, seperti halnya darahmu yang sempat menempel di tanganku dan memuncrati wajahku.

Menjijikkan. Aku takkan pernah memesan smoothie stroberi lagi.
Takkan.

Advertisements

Komennya dong, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s