Perempuan dan Rokok di Bibirnya

19429175_1909046756017056_4983628605713022976_n
Sketsa: Carolina Ratri

Ia tahu, kekasihnya tak akan pernah datang. Mungkin sudah ratusan malam ia menunggu kedatangan kekasihnya itu di halte bus, seperti yang dijanjikan. Mungkin pula sudah ribuan bus datang dan pergi di halte itu.

Tapi tak ada satu bus pun yang membawa kekasihnya. Lelaki itu tak pernah datang. Janjinya hilang, terbang.

Namun, ia masih saja menunggu di halte. Tak peduli angin malam dingin menembus pori. Ia duduk di ujung salah satu bangku, menyalakan rokok, dan mengisapnya panjang-panjang.

Tak seperti biasa, kali ini ia mengisap rokok sambil memejamkan mata. Ia tengah berdoa, meminta waktu mengisap dirinya.

Sang waktu pun merasa iba pada perempuan itu, dan mengabulkan permintaannya kali ini.

Rokok di bibirnya mengisap masuk perempuan itu atas perintah sang waktu. Rokok yang selalu menemani dalam penantian itu kini melindunginya dari harapan palsu si kekasih.

Di sanalah perempuan itu kini duduk dan menunggu. Hingga bara api rokok itu mati.

Advertisements

Komennya dong, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s