Sang Pencari Patahan Hati

image

“Aku merindukan istriku.”

“Memang ke mana dia?”

Hening. Dia tak menjawab. Matanya lurus menuju ke tengah laut. Angin memainkan rambutnya yang pendek, juga kaus putihnya. Dia duduk dengan tangan menopang tubuh beberapa sentimeter ke belakang. Nampak santai, namun rasanya jiwanya memang tak ada di sini.

“Aku merindukan istriku.”

“Meninggalkah dia? Atau pergi dengan lelaki lain?”

Aku tahu itu tak etis untuk kutanyakan. Tapi, sungguh, aku penasaran. Apakah dia senasib denganku? Ditinggalkan oleh orang yang disayang, demi orang lain?

Namun, dia tetap diam. Dengan mata yang tetap tertuju ke tengah laut. Angin berembus lagi. Suara debur ombak kembali mendominasi.

Pantai sepi. Tak ada orang berlibur ke pantai di hari kerja seperti ini.

“Aku merindukan istriku.”

Kupikir, mungkin dia gila. Karena terlalu sedih kehilangan istrinya.

Kupikir lagi, mungkin aku bisa saja segila dia. Kalau aku tak segera memesan tiket satu kali jalan ke pulau ini, semenjak aku lihat suamiku tidur dengan perempuan sundal itu.

Aku tak lagi menanyainya, alih-alih, aku malah duduk di sampingnya. Sesekali boleh juga menemani orang asing (yang mungkin gila). Lagipula, anggap saja aku sudah tak bersuami lagi.

“Kau juga merindukan suamimu ya?”

Eh? Bagaimana dia tahu?

“Manusia itu kadang memang tak tahu berterima kasih bukan? Sudah dicinta sebegitu rupa, malah pergi begitu saja.”

Eh?

“Aku tahu betapa sakitnya. Rasanya perempuan itu pengin kautikam saja bukan? Ingin kautarik rambutnya dan kaucakar wajahnya? Oh ya, kauingat juga pasti kan, bagaimana suamimu tampak begitu bahagia dalam pelukannya?”

Aku mulai merasakan panas itu lagi dalam dadaku.

Rasa panas yang menyakitkan, yang pernah seakan meledakkan kepalaku. Ingatanku kembali ke kamar hotel.

Malam itu.

Di tempat tidur itu.

Pergumulan itu.

Suamiku dan dia, yang katanya adalah sahabatku.

Dadaku kembali sesak.

“Mengapa tak kautikam saja dia saat kau ada kesempatan?”

Argh! Dasar sundal! Berlagak menjadi sahabatku, ternyata ….

“Aku bisa membawamu pada perempuan itu, kalau kau ingin membunuhnya sekarang.”

Aku menoleh dengan cepat. “Bagaimana caranya?”

“Ikutlah aku.”

Dan aku pun bangkit, mengikuti langkahnya.

Terus berjalan …

Terus …

Terus …

***

“Sudah delapan orang perempuan menghilang dari pantai tersebut. Demi keselamatan wisatawan, kini pemerintah daerah menutup pantai, dan mengimbau para wisatawan untuk tak mengunjunginya selama beberapa waktu. Pemerintah daerah menjelaskan, bahwa akan mengadakan pengusutan lebih lanjut mengenai pantai ini.

Kita menuju berita selanjutnya.

Para pendemo mulai berkumpul ….”

Radio mati.

Aku menyibak tirai jendela sedikit.

Pantai semakin sepi.

— ∑nd —

399 kata

Untuk Prompt #133 Monday Flashfiction

Advertisements

Komennya dong, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s