Pada suatu ketika di Negeri Katak diadakan sebuah sayembara.

Barang siapa mampu memanjat sebuah menara yg tinggi di tengah kota akan mendapatkan sekantong uang emas.

Semua katak muda di negeri itu begitu antusias mengikuti sayembara, termasuk seekor katak kecil yang hidup di pinggiran negeri itu. Baru beberapa meter menanjak, beberapa ekor katak jatuh ke bawah. Satu per satu katak mulai berjatuhan, hingga akhirnya tinggal tiga katak yg tersisa.

Saat itu penonton berteriak, “Puncak menara itu terlalu tinggi. Mustahil kalian bisa mencapainya!”

Katak yang telah jatuh pun ikut berteriak, ”Dari ketinggian tiga meter saja badanku sudah sakit semua, apalagi jika jatuh dari puncak menara itu. Aku tak bisa membayangkannya.”

Katak yang masih memanjat mulai kuatir, dan mulai mengundurkan diri. Tinggal dua katak lagi termasuk si katak kecil.

“Hati-hati, di atas sana licin, kamu bisa terpeleset!” Lagi-lagi terdengar teriakan dari bawah.

Akhirnya saingan si katak kecil mengundurkan diri, tinggal katak kecil seorang diri.

“Hai katak kecil, di atas licin, kamu bisa jatuh! Angin di atas berembus sangat kencang, kamu bisa terbawa angin!”

Katak kecil tak peduli dan terus memanjat. Namun, akhirnya, iapun berhasil!

Saat katak kecil turun, penonton mengerubutinya dan bertanya-tanya, bagaimana bisa katak kecil berhasil. Ketika katak kecil diam saja, barulah mereka sadar bahwa katak kecil itu tuli, sehingga tak bisa mendengar peringatan mereka.

Ibu katak kecil akhirnya menimpali, “Katak kecil dapat sampai di puncak karena ia tidak dapat mendengar ucapan kalian yang melemahkan semangatnya. Ia bisa terus sampai di atas karena ia hanya mendengarkan suara hatinya dan konsisten pada tujuan yang ingin dicapainya.”

 * * *

Ayah menutup buku dongeng yang dipegangnya.

Alya tampak merenung.

“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Ayah.

“Jadi, maksud cerita ini apa, Yah?”

“Menurut Ayah, untuk meraih cita-citamu, kamu harus yakin pada dirimu sendiri bahwa kamu bisa melakukannya dengan baik. Cita-cita dan harapan selalu bisa terwujud, jika diiringi dengan usaha yang tak kenal lelah dan tanpa menyerah, juga tentunya dengan doa yang tak pernah berhenti.”

Alya manggut-manggut mengerti.

“Termasuk Alya yang mau ikutan Olimpiade Matematika minggu depan, Yah?”

Ayah mengangguk mantap. “Termasuk Alya yang mau ikutan Olimpiade Matematika minggu depan,” ulang Ayah.

Alya tertunduk. Hatinya masih begitu kacau. Alya tidak yakin bisa menang dalam pemilihan calon peserta Olimpiade Matematika untuk mewakili sekolahnya. Kenapa?

Karena ada Desta yang juga ikut berlomba.

Desta, anak kelas 5B itu, selalu menjadi juara sekolah. Nilai matematikanya menakjubkan. Selama ini baru dua kali saja Alya bisa mengungguli nilai matematikanya. Namun untuk predikat juara sekolah, Desta sama sekali tidak terkalahkan. Alya selalu harus puas di peringkat kedua atau ketiga.

Pak Widhi sudah memutuskan untuk mengikutsertakan baik Alya dan Desta dalam Olimpiade Matematika kali ini.

“Siapapun yang menang, baik Alya dan Desta sudah sama-sama berusaha mengharumkan nama sekolah kita,” begitu kata sambutan Pak Widhi, Kepala Sekolahnya, saat upacara bendera pagi tadi. Beliau memang sedang meminta doa restu dari seluruh siswa, guru dan karyawan SD Bibit Unggul atas dikirimnya Alya dan Desta.

Alya menghela napas.

Ayah merasakan kegelisahan Alya.

“Kenapa kamu ragu, Al? Kamu kan sudah berlatih begitu keras kemarin.” Ayah membelai rambut Alya yang tergerai. “Apa pun hasilnya, yang penting, kamu sudah berusaha.”

“Alya nggak suka kalah, Ayah. Alya takut mengecewakan Pak Daru yang sudah menemani Alya belajar selama ini. Alya takut nanti akan mengecewakan teman-teman Alya. Alya juga takut mengecewakan Ayah dan Bunda. Nanti Ayah dan Bunda nggak bangga lagi sama Alya, kalau Alya kalah.”

“Memangnya selama ini, Ayah dan Bunda pernah nggak bangga sama kamu, Al?” tanya Ayah lagi.

Alya diam sejenak. Lalu menggeleng.

“Sepertinya sih, Ayah dan Bunda selalu bangga sama kamu, apa pun yang kamu lakukan. Memangnya Ayah pernah bilang kalau Ayah kecewa?”

Alya menggeleng lagi.

“Nah, seperti itulah yang dimaksud oleh cerita katak tadi, Al. Yakinlah pada dirimu sendiri, berusahalah sekuat mungkin. Hasilnya, entah nanti. Kita iringi dengan doa.”

Alya masih terdiam. Namun entah kenapa, hatinya sudah tak lagi kacau. Dia mulai tenang.

“Harus yakin, bahwa aku bisa ya, Yah?” tanyanya lagi.

Ayah mengangguk mantap. “Betul! Betul! Betul!” Ayah menirukan gaya ucapan Upin.

Alya tergelak karenanya.

“Sekarang, tidur ya?”

“Selamat tidur, Ayah!”

Ayah mengecup dahi Alya dan meninggalkan kamar Alya setelah mematikan lampu.

* * *

“Jadi, bagaimana perasaanmu?” tanya Ayah.

Alya tersenyum. “Baik.”

“Kamu tidak kecewa?”

Alya menggeleng. “Tidak. Desta memang hebat, Ayah. Dia pantas menjadi pemenangnya.”

“Lalu, apakah Pak Widhi kecewa terhadapmu?”

Kembali Alya menggeleng. “Tidak, Ayah. Tadi di sekolah, ketika Pak Daru, Alya dan Desta sampai, Pak Widhi menyalami kami semua. Beliau memberi selamat pada Desta, karena berhasil menjadi salah satu pemenang walaupun bukan yang pertama. Tapi Alya juga mendapat selamat, karena sudah menunjukkan usaha yang maksimal. Begitu katanya.”

“Jadi, Pak Widhi tidak kecewa ya?”

“Tidak!”

“Teman-temanmu?”

“Tidak juga. Semuanya malah senang menyambut Alya dan Desta kembali ke kelas, setelah perjalanan ke Surabaya kemarin.” Alya terkikik. “Pada nanya-nanya gitu, Yah.”

Ayah tersenyum.

“Buat Ayah dan Bunda, kamu selalu menjadi pemenang, Al.”

Alya pun memeluk Ayah dengan erat.

“Nanti malam Ayah harus bertugas lagi membacakan dongeng buat Alya,” kata Alya.

“Lho, ahli matematika kan bisa baca dongeng sendiri. Masa sudah kelas lima masih dibacakan?”

“Ah, Alya mau dibacakan sama Ayah! Beda rasanya kalau baca sendiri. Tetep lebih suka dibacakan.”

Ayah tertawa. “Baiklah! Tapi, mana nih teh manis buat Ayah?”

“Eaaaaa…” Alya pun bergegas ke dapur untuk membuatkan teh manis untuk Ayah.

Advertisements

Komennya dong, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s