Sebuah Jawaban

Refresh!

Refresh!

Tetap belum ada apa-apa. Mel! Kamu ke mana? Seharusnya di sana ini baru juga jam delapan malam. Perbedaan waktu Indonesia – Melbourne hanya tiga jam. Masak udah tidur? Argh! Jangan-jangan jaringannya nih yang lemot.

* * *

PING!

PING!

Meeel! Even di BlackBerry saja kamu tak menyahutiku?

* * *

Baiklah. Mau kupelototin kayak apa, sepertinya ga akan ada balasan SMS dari Melli. Setidaknya malam ini.

Mel, kamu ke mana? Kenapa tidak menjawab messengerku? Kenapa BlackBerry-mu juga tak aktif? SMS-ku sepertinya juga nyampai, tapi kenapa tak juga kamu balas?

Apakah aku salah  ngomong?

Apakah salah aku menembakmu kemarin malam, Mel?

Sejak itu, kamu tiba-tiba diam seribu bahasa.

Maafkan aku, Mel. Mungkin aku yang tak tahu diri. Seharusnya aku nyadar, kalau kamu cuma menaruh belas kasihan padaku. Orang cacat begini seharusnya ngerti! Seharusnya tahu! … dan lalu nyadar!

* * *

Ada ketukan tiga kali di pintu kamar.

Yoyo menghela napas. Lelaki masa galau! Rutuknya pada diri sendiri, sambil mendorong dirinya sendiri di atas kursi roda. Dibukanya pintu.

Dia terperangah mendapati seseorang berdiri mematung di depan pintu. Hening sejenak, dan dua jenak. Mereka hanya bersitatap.

Melli menghambur ke pelukan Yoyo.

“Aku mau jadi pacarmu, Yo!”

 

——— Σnd ———-

Semacam sekuel dari sini.

Yogyakarta, Sept 12 2013 @ 21:14

Advertisements

Komennya dong, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s