Lalu tiba-tiba saja aku berada dalam sebuah barisan.

Hmmm… Barisan apa ini? Di depanku berdiri seorang pemuda. Usianya mungkin masih sekitar akhir belasan, lebih tinggi dariku. Aku mengamati sekeliling.

Ruangan tempatku berada adalah sebuah ruangan yang luas. Berlangit-langit tinggi sekali. Entahlah, mungkin sepuluh meter. Dindingnya dicat dan dilukis dengan imaji-imaji awan putih. Bergumpal-gumpal, berbingkah-bingkah. Indah sekali.

Aku mencoba mengintip ke depan barisan. Hmmm, tak terlalu jelas, ada apa di depan sana. Bah, balustrade besi ini membuatku tak bisa sedikitpun agak bergeser menyamping.

Kutepuk pundak pemuda yang ada di depanku. Dia menoleh. Matanya bertanya.

“Kita sedang mengantri apa di sini?” tanyaku.

Dan tiba-tiba saja terdengar suara di kepalaku. “Sssstt! Diam! Tak boleh banyak bicara!”

Sungguh, aku kaget setengah mati. Sampai terlonjak aku karenanya. Suara itu benar-benar berada dalam kepalaku. Tidak seperti kalau kita mendengar orang berbicara melalui mikrofon. Tidak. Tidak seperti itu. Aku terdiam. Pemuda di depanku pun kembali menghadap ke depan.

Aku menoleh ke belakang.

Di belakangku, berdiri seorang perempuan. Agak lebih tua sedikit dariku. Aku sudah akan bertanya padanya, ketika aku teringat suara yang tadi ada di dalam kepalaku. Aku ngeri. Jadi, aku pun kembali menghadap ke depan. Menekan rasa penasaranku kuat-kuat.

Tak terasa aku semakin maju, dan semakin mendekati ujung barisan. Yang tak kusadari sejak tadi, adalah dua pintu besar-besar yang ada di kanan dan kiri. Begitu besarnya, hingga mencapai langit-langit. Aku menggeleng-gelengkan kepala. Tempat apa pula ini?

Lalu aku bisa melihat seseorang berdiri di ujung barisan.

Tunggu, tunggu!

Sosok itu… kekar, berotot. Dia memakai semacam kaos hitam ketat tanpa lengan, memperlihatkan pangkal lengannya yang sebesar pahaku. Rambutnya, model emo. Gaul banget, dengusku. Tapi, aku seperti mengenalnya. Di mana ya aku melihatnya?

Aku masih tetap berpikir keras sembari maju selangkah demi selangkah dan semakin mendekati ujung barisan. Si Kekar itu membawa sebuah buku. Buku yang tebal sekali. Dia menanyai orang-orang yang ada di depannya. Lalu orang-orang itu akan masuk ke pintu besar yang ada di kiri atau kanan. Tapi tunggu, ada pula yang lantas merangkak masuk ke dalam lobang kecil yang ada di belakang si Kekar itu.

Hingga tibalah aku di depan si Kekar itu. Dia lantas bertanya padaku, dengan suaranya yang berat, “Siapa namamu?”

“Ambros.” Aku terpaku. Dia ternyata punya sepasang sayap di punggungnya.

“Ambros,” dia mengulangi lalu meneliti bukunya. “Namamu tak ada di sini. Belum saatnya. Silakan keluar lagi lewat pintu kanan.”

Aku pun menuju pintu besar kanan.

 

* * *

 

Tiit… tit… tit…

Suara alat rekam jantung menusuk telingaku.

Aku membuka mata. Kulirik ke perempuan yang tertidur di samping tempat tidurku.

“Mmmmhhh…” hanya itu yang bisa kukeluarkan dari mulut.

Perempuan itu terbangun, menatapku dengan membelalak. “Alhamdulillah! Kamu sadar!” Buru-buru dia lari keluar. Mungkin memanggil seseorang. Saat itu kusadari di mana aku berada. Kamar rumah sakit.

Mataku tiba-tiba tertarik ke arah televisi yang terpasang di dinding kamar yang sedang menayangkan suatu acara.

Tertumbuk pada sosok kekar yang sedang menyanyi dangdut di atas panggung sambil memegang mikrofon berbentuk barbel.

 

credit

 

Hah? Itu kan…

 

————————–

Untuk Writing Prompt dari Monday FlashFiction.

492 kata.

Sumpah, bikinnya sambil ngekek. Semoga ga terlalu geje 😆 wkwkwkwkwkwk…

 

Advertisements

22 thoughts on “Prompt #24: Hah? Itu Kan …

  1. Oh My God!!! Antara masuk ke alam setelah dunia dan penyanyi dangdut yang bawa barbel ituuuh *eh tapi kok mirip dia emang Mba? hihiiiii keren swear keren banget. Dapat menyundulkan kegalauanku yang lagi stuck nulis. *eh.

    Like

  2. pernah sih ngalamin kejadian pas lagi tidur kok ‘tiba-tiba’ kejadian dalam mimpi berubah perlahan. pas kebangun ternyata tv masih nyala dan menyiarkan film. adegan film itu yang ‘merasuk’ ke dalam mimpi. Hehehe.

    Like

  3. duh, jangan sampe deh mimpi ketemu agung hercules.. apalagi yang adegan dia lagi ngajar senam pake baju senam ketat warna elektrik kayak di sinetron yang tanpa sengaja aku liat di tivi.. ihh.. nggak banget…

    Like

Komennya dong, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s