Remake: Anggrek

Kulap keningku. Motor tuaku kembali ngadat, dan di saat yang tak tepat! Urgh!

“Ga mau nyala juga, Not?” Suara Ibu tiba-tiba terdengar.

Aku hanya diam dan menggeleng. Secepat kilat aku memakai sepatu ketsku dan lalu menyambar tas yang sudah dari tadi menungguiku di kursi teras untuk diajak pergi.

“Mau ditinggal aja nih, motornya?”

“Iya, Bu. Aku ada ujian. Aku pake bis aja deh! Keburu telat!”

Kukecup pipi Ibu dan lalu bergerak meninggalkan teras rumah. Sambil lalu kutepuk jok motor Honda Pitungku.

I’ll be back with you a bit later, dude…

credit

Sudah sekian lama aku tak pernah naik bis lagi. Dan aku pun segera ingat bagaimana aku membenci bau asap knalpot yang mengiringi. Membenci bau parfum murahan ibu-ibu yang berdiri di depanku. Membenci asap rokok pemuda yang duduk di kursi persis di bawah tanda “Dilarang Merokok di dalam Bis”.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala.

Biar butut, motorku itu lebih nyaman. Biarpun kalo hujan aku harus berteduh, supaya mesinnya tak kebasahan  kena air hujan.

Sungguh, aku membenci bis kota.

Tapiiiii… rasanya ada sepasang mata yang mengamatiku. Kulirik bangku di sebelah kanan.

Sepasang mata yang berbinar lucu menatapku. Mulutnya kemudian tersenyum padaku. Ada lesung pipit kecil di pipi kirinya. Di sebelahnya duduk seorang ibu yang memangku bocah yang lebih kecil lagi, sekitar 2 tahun. Sedang berusaha menenangkannya dengan berdendang lagu sederhana. Si Lesung Pipit itu masih tetap tersenyum.

Aku, tanpa harus merasa terpaksa, membalas senyumannya.

“Mak, mak! Geser mak. Kasihan Mbak itu. Berdiri terus dari tadi. Biar duduk sama Anggrek.”

Si Ibu menatapku, tersenyum, kemudian menggeser duduknya sedikit. Si Lesung Pipit lalu menepuk-nepuk daerah sempit di kursinya yang kosong untuk kududuki.

Ahhh … kamu baik sekali, Sayang. Aku pun duduk di sebelahnya.

“Makasih ya.”

“Iya, Mbak. Mbak namanya siapa?”

“Nina. Tapi temen-temen Mbak manggilnya Ninot.”

Dia tergelak sedikit.

“Hey, kok ketawa? Lucu ya?”

“Hihi iya,” sahutnya malu-malu.

“Namamu siapa?”

“Anggrek.”

“Uuuuh… keren! Sekeren orangnya.”

Anggrek tersenyum tersipu lagi.

“Mbak mau kemana?”

“Mau kuliah. Kamu?”

“Mau jalan-jalan aja, Mbak. Mo liat toko, mobil-mobil, andong juga. Naik bis itu jadinya lebih tinggi, Mbak, dari mobil. Mobilnya jadi pendek-pendek.” jawabnya lancar dan diikuti cekikikan lucu.

“Kamu suka naik bis?”

“Suka banget, Mbak! Kalo bisa sih tiap hari deh naik bis.”

“Ya jangan tiap hari, Sayang. Tunggu Mamak dapat rejeki dulu dong,” si Ibu tiba-tiba menyahut.

Anggrek terkekeh. Aku pun ikut tersenyum lebar.

Ahhh. Untuk naik bis saja, harus menunggu si Mamak dapat rejeki. Sedangkan aku? Motor ada, walaupun butut. Naik bis sekali saja ngeluhnya sampai ke mana-mana. Aku jadi malu sendiri.  Aku yang tadi marah-marah ketika baru saja menginjakkan kaki di bis butut ini, merasa tertampar oleh kesederhanaannya.

“Itu adikmu, ya?”

“Iya, Mbak.”

Belum sempat aku mengajaknya bercerita lebih jauh, tiba-tiba sebuah suara bariton memanggilku.

“Lho? Mana Pitungmu, Not? Jangan bilang kalo kamu naikkan juga ke bis.”

Aku mendongak. El? Sungguh aku malu, ketika kudapati diriku sendiri sedang menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut lalu kembali lagi ke ujung kaki.

“Kenapa, Not? Heran, temen kuliahmu jadi kernet??”

“Eh…oh… ummmm… engga sih. Eh, iya sih.”

Aku jadi tertawa segan. Meh! Malu tertangkap basah gini.

El, teman kuliahku. Di kampus tergolong mahasiswa yang biasa-biasa saja. Tak terlalu menonjol. Tapi dia lawan terberat main kartu. Itulah yang biasa kami lakukan ketika lagi tak ada kuliah. Berkumpul di Ruang KM dan main kartu. Tanpa taruhan. Kalah menang disambut dengan tawa.

“Yaaa begini, Not. Kalo lagi ga ke kampus. Ngernet. Hasilnya lumayan. Bisa buat makan. Karena uang dari orang tua cuma bisa buat bayar kuliah aja. Buat makan, aku musti cari sendiri.”

Aku manggut-manggut.

“Kamu ada ujian?”

“Iya. Emang kamu ga ngambil Manajemen Konstruksi?”

“Ah, belum. Mungkin semes….”

Tiba-tiba El berhenti menyelesaikan kalimatnya. Ada sedikit kilat aneh di matanya, dan kulihat ada senyum geli di bibirnya.

“Kenapa?”

Belom sempat El menjawab, Anggrek menyentuh tanganku.

“Mbak, permisi ya. Anggrek sama Mamak turun di sini.”

“Ohhhh… udah sampe ya? Iya deh. Hati-hati ya, Sayang. Sampai jumpa lagi!”

Anggrek melewatiku, disusul ibunya yang menggendong si adik. Mereka turun dari bis, setelah El memberikan isyarat pada supir supaya menepi. Kulihat dari jendela, Anggrek melambaikan tangannya padaku sambil tertawa ceria.

Ahhh… malaikat kecil itu. Kubalas lambaiannya. El masih berdiri di tempatnya semula. Matanya masih menatapku sambil tersenyum. Aku merasa ada yang ganjil, tapi tanpa tau apa penyebabnya.

“What…???”

Dia hanya menyeringai. Aku mengernyit.

“Kamu turun di depan kan?”

Kulongok ke depan, ternyata benar. Aku sudah harus segera turun. Sudah dekat dengan halte dimana aku harus turun dari bis dan kemudian disambung dengan jalan kaki masuk kampus sekitar 2 menit. Aku pun berdiri dan berjalan sempoyongan menuju ke pintu depan bis mengikuti El yang sudah berjalan di depanku.

Ketika aku sudah hampir turun, El mengangsurkan uang sebanyak uang yang tadi kuberikan pada kondektur pintu belakang. Jumlahnya persis sama.

Aku menatapnya dengan bingung.

“Buat ongkos pulang yah,” sahutnya sambil tersenyum. Lalu segera memberi isyarat pada supir untuk menepi. “Jangan kapok naik bis. Cuma lain kali, harus lebih hati-hati.”

Aku turun dari bis masih dengan perasaan bingung. El berlalu sambil melambaikan tangan dan meninggalkan senyum lebarnya. Aku membalas tapi dengan dahi berkerut.

Ah… entahlah. Berarti aku naik bis gratis siang ini. Aku cengar cengir. Tapi masih ada rasa malu di hati. Aku menggerutu sedemikian rupa karena motor ngadat, harus naik bis, dan marah-marah karena bau knalpot, parfum murahan atau bau rokok. Tapi orang-orang seperti Anggrek dan ibunya, dan juga El, malah menikmati setiap detik mereka berada di atas bis kota itu. Aku marah-marah karena aku merasa tak nyaman berada di dalam bis… tapi mereka? Mungkin jika tak ada bis kota, mereka yang akan merasa tak nyaman. Iya kan?

Aku mengangkat bahu. Kuakhiri lamunan dengan bergegas menuju kampus. Sambil berjalan setengah berlari, tanganku merogoh tas untuk mencari dompet. Kartu ujian kusimpan di dalamnya, dan untuk bisa masuk ke ruang ujian, kartu itu harus kutunjukkan pada pengawas.

… errrr …

Dan dimana barang itu? Barang kecil berbentuk segiempat berwarna merah marun. Penasaran aku berhenti lalu lebih dalam mencari ke dalam tasku. Tidak ada! Aku yakin banget aku membawanya! Karena tadi aku membayar si kondektur teman El tadi ketika aku baru saja naik ke atas bis, dengan uang yang kuambil dari dompet.

Aku tersadar. Co… copet? Tapi, kapan? Begitu masuk, aku hanya berdiri sebentar. Itupun tidak terlalu berdesakan, dan lalu diajak duduk oleh Anggrek.

Anggrek? Anggreeeeeekkk…?

Kuingat lambaian tangannya. Kuingat tawa cerianya. Dia berterima kasih! Dan El? El seperti melihat sesuatu, dan dia tersenyum geli. El melihat, entah Anggrek entah Ibunya, menjarah tasku! Pantas saja dia mengembalikan uangku, dan kata-kata yang meluncur terakhir tadi…

ARRRGGGHHH…!!!!

Dan aku lalu ingat, apa yang paling kubenci dari bis kota.

———————————

Untuk Tantangan Lampu Bohlam.

Remake dari cerita di sini.

Advertisements

16 thoughts on “Remake: Anggrek

Komennya dong, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s