Ibuku itu Ibu


credit

Ibu. Sosok apakah itu?

Aku tak pernah mengenalnya. Yang aku tahu, ibuku itu ya Ibu Hani. Ibu Hani yang memeliharaku sedari aku bayi yang ditinggalkan begitu saja di depan pintu rumah ini. Dan aku memang memanggilnya dengan sebutan Ibu. Mereka bilang, rumah ini tempatnya banyak perempuan membuang bayinya. Aku tak tahu, kenapa mereka harus membuang bayi mereka. Membuang itu kan artinya menyingkirkan sesuatu yang sudah tak terpakai lagi, kan? Terus, kalau membuang bayi mereka, itu artinya apa? Apa yang ada di pikiran mereka sebenarnya?

Ah… entahlah. Lagipula menurutku, orang dewasa itu memang aneh. Mereka senang melakukan sesuatu yang kemudian mereka sesali. Tidak, bukan maksudku untuk berlagak sok tua dan sok tahu. Tapi itulah yang aku lihat di sekelilingku ini. Kuharap aku tidak begitu kalau sudah lebih dewasa nanti.

Rumah ini dihuni oleh delapan orang anak yang menjadi temanku tumbuh. Yang paling besar, Kak Bona. Umurnya sudah 17 tahun. Sudah duduk di kelas 3 SMA. Kalau pagi dia sekolah. Sepulang sekolah, dia akan bekerja di tempat pencucian mobil di ujung jalan sana. Yang paling kecil, Dek Mita. Umurnya baru 6 bulan. Baru bisa duduk. Aku sayang sekali sama dia. Sudah kuanggap dia seperti adikku sendiri. Ibu menemukan dia di tong sampah di dekat sebuah rumah bersalin sederhana di pinggir kota. Subuh itu, Ibu pulang dari luar kota sudah dengan membawa Dek Mita. Dia bahkan masih merah, ada sesuatu di perutnya seperti tali hitam yang kaku. Dek Mita waktu itu tampak nyaman sekali tidur di pelukan Ibu. Kami semua yang baru bangun mengerubungi Ibu sambil sibuk menciumi dan mencolek-colek pipi Dek Mita yang ranum.

Kami semua terbiasa bangun pagi subuh-subuh. Setelah melaksanakan sholat berjemaah, kami lalu bergotong royong membersihkan rumah, memasak sarapan hingga mengasuh adik-adik yang masih membutuhkan. Aku, anak kedua terbesar, yang sudah kelas 1 SMA, tentu ikut membantu sebisaku. Tugasku adalah menyapu dan lalu mengepel lantai. Kami semua bekerja sama dengan riang gembira. Ibu? Ibu tentu saja masak. Masakan Ibu paling enak sedunia. Ajaibnya, kami tak pernah kekurangan. Ibu selalu bisa membagi semua makanan dengan adil.

Kadang kulihat Ibu begitu lelah. Kalau lelah, Ibu hanya duduk di sofa bodol yang ada di samping kompor itu. Dia duduk dan lalu matanya terpejam sejenak. Mungkin dia tertidur. Kami semua tak akan mengganggunya jika dia sedang beristirahat begitu. Hanya sepuluh menit dia begitu, kemudian dia kembali menyapa dan mengajak kami bermain lagi.

Hingga suatu saat…

Kutemukan Ibu duduk di pinggir kasurnya. Dia tertunduk. Mukanya tertutup oleh jilbabnya. Entah kenapa aku merasakan dia sedang menangis. Tangannya ada di pangkuannya, memegang sesuatu. Aku tak berani mendekat. Aku hanya memandanginya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Lama aku memandanginya begitu. Kulihat bahunya masih bergerak-gerak seirama isakannya.

Sungguh. Aku tak tega melihatnya begitu. Tapi aku juga tak berani untuk mendekat. Kuputuskan untuk mencari Kak Bona yang saat itu sedang bertugas mengasuh Dek Mita.

“Kak…” panggilku.

Kak Bona mendongak. Dek Mita sedang bermain dengan bola-bola kainnya. “Ya, Din?”

“Dinda kok lihat Ibu lagi menangis ya, Kak?”

“Dimana?” Kak Bona pun kelihatan kaget. Memang, Ibu seperti tak pernah sedih selama ini. Apalagi marah. Wajahnya selalu tersenyum, dan dia hanya tertawa ketika salah satu dari kami nakal. Bahkan ketika kami sakit pun, Ibu tak pernah mengeluh. Dia begitu sabar merawat kami.

“Di kamar, Kak,” jawabku.

Kak Bona tampak ragu sejenak untuk meninggalkan Dek Mita sendirian.

“Biar kujaga Dek Mita, Kak. Kak Bona lihatlah Ibu dulu.”

Kak Bona segera pergi ke kamar Ibu. Sebagai anak tertua, Kak Bona memang jadi lebih dewasa dari umur yang sebenarnya. Ah.. memang yang hebat itu adalah Ibu. Kak Bona itu kan hasil dari didikan Ibu.

Tak lama Kak Bona sudah kembali. Bersama Ibu. Dan kulihat Ibu tersenyum padaku.

“Ibu gak apa-apa gini kok Din,” kata Kak Bona sambil merangkul Ibu.

Ibu tetap tersenyum padaku. “Ibu ndak apa-apa, Dinda.”

Dan, kamu tau? Dalam hati kecilku, aku tak percaya. Pasti ada sesuatu dengan Ibu. Sangat jelas tadi Ibu menangis. Ibu boleh menganggapku anak kecil. Tapi aku perempuan. Aku tau Ibu. Aku tahu perasaan Ibu, Ibu tak bisa bohong padaku.

Dua hari kemudian, malam itu, aku kembali menemukan Ibu menangis lagi di kamarnya. Aku mengamatinya dari celah pintu yang memang tak bisa menutup rapat. Dan kali ini, aku perlahan mendekat.

“Ibu…” sapaku.

Ibu terkejut. Dia berusaha menyembunyikan air matanya. Tapi tak berhasil. Aku sudah tahu dan melihat ada air mata bergulir jatuh di pipinya. Akhirnya Ibu hanya menatapku, lalu mengulurkan sesuatu yang ada di genggaman tangannya. Aku menerimanya.

Sebuah foto. Foto seorang bayi mungil yang lucu sekali. Pipinya bulat besar dan berwarna merah jambu. Bibir kecilnya mengatup dan berwarna merah cerah. Mata kecilnya tertutup. Dia sedang tidur.

“Siapa ini, Bu?” tanyaku.

Ibu terdiam sejenak. “Ibu menamainya Laksita.”

“Namanya bagus sekali.” Aku masih memandangi foto itu. “Siapa ini, Bu?” tanyaku lagi.

“Dia… anak Ibu.” Suara Ibu tercekat.

Aku terdiam. Kukira… ahhhh Ibu.. Ternyata banyak yang tak kuketahui tentang Ibu. Ibuku sendiri.

“Kamu sudah besar, Dinda. Mungkin Ibu memang sudah bisa bercerita padamu. Apalagi kamu adalah anak perempuan Ibu yang paling besar.”

Dan lalu cerita ini meluncur dari mulutnya…

Ibu dulu adalah seorang penghuni sebuah lokalisasi di salah satu kota terbesar di negara ini. Itu bukanlah pengalaman yang baik untuk diceritakan pada anak-anak sebenarnya. Tapi aku tahu, Ibu menganggapku sudah dewasa. Jadi aku harus mempertanggungjawabkan kepercayaan itu. Singkatnya kemudian, Ibu hamil. Tanpa Ibu tahu siapa ayah dari janin yang dikandungnya. Sembilan bulan kemudian, Laksita lahir. Tapi… kemudian Ibu tervonis terinfeksi virus HIV. Ibu merasa dunianya hancur. Lebih hancur lagi, ketika dia harus memeriksakan Laksita untuk diperiksa juga. Dan ternyata Laksita juga terinfeksi virus itu.

Aku ikut menangis bersama Ibu. Bayi sekecil itu. Kukira aku dan saudara-saudaraku di sini sudah yang paling malang nasibnya. Dibuang oleh ibu kami masing-masing, yang tak menghendaki kami untuk lahir ke dunia ini. Tapi… Laksita? Bayi itu bahkan harus ikut menanggung kesalahan orang tuanya! Dia yang tak tahu apa-apa… Dia yang hanya sekedar diciptakan oleh Tuhan.

Ibu lalu melanjutkan ceritanya.

Ibu meninggalkan lokalisasi, pulang ke kota ini yang merupakan kampung halamannya. Pulang ke rumah orang tuanya. Orang tuanya sebenarnya sudah lama tiada, dan mereka menitipkan rumah ini pada adik mereka yang bibi Ibu. Ketika Ibu pulang, bibi yang baik hati itupun juga meninggalkan rumah ini, dan lalu hidup bersama anaknya di kota lain. Jalan hidup sudah ditentukan. Ibu lalu memulai kembali hidupnya di sini, bersama Laksita.

Tapi tetap saja, Ibu harus melalui ujian berat. Laksita tak dapat bertahan. Setelah melalui sakit flu yang tak kunjung sembuh dan bahkan makin parah, Laksita meninggal dunia. Hidup Ibu makin hancur. Bahkan pernah terpikir untuk bunuh diri saja. Selama ini Ibu bertahan hidup untuk Laksita. Ketika Laksita sudah tak ada lagi, maka tak ada yang bisa menahan Ibu untuk pergi dari dunia ini.

Tapi Tuhan telah membuat rencana lain untuk Ibu. Malam itu, Ibu hendak menuju jembatan sungai di kota ini. Niat sudah bulat, dia akan pergi. Langkahnya terhenti di salah satu sudut kota. Ada suara tangis bayi di jalanan yang sepi. Ibu berusaha menemukan sumber suara. Di dalam sebuah got, di situlah si bayi tersangkut bersama sampah-sampah. Iya… itu Kak Bona.

Sejak itu, Ibu merawat bayi-bayi yang terbuang, sebagai pengganti Laksita. Sebagai penyemangat hidupnya. Hingga sekarang sudah lebih dari 17 tahun sejak ditemukannya Kak Bona, Ibu masih bersemangat hidup yang membara. Semuanya hanya untuk kami. Kami, yang bukan anak-anak kandung Ibu, yang ditemukan di berbagai tempat, bahkan ada juga yang dengan sengaja diantar oleh ibunya kemari, sudah menjadi nafas kehidupan Ibu.

Tapi tak urung, Ibu selalu rindu kepada Laksita. Bayi yang umurnya hanya sampai beberapa minggu. Yang selalu diperingatinya setiap tanggal 2 Mei.

2 Mei? Itu besok! Aku terkejut.

“Ibu, bagaimana kalau besok kita berdoa bersama untuk Laksita?”

Ibu menghapus air matanya. “Tapi Ibu tidak ingin saudara-saudaramu tahu cerita ini, Din. Setidaknya untuk sekarang. Cukup kamu saja. Karena kamu anak perempuan Ibu yang paling besar.”

“Tidak, Bu. Mereka tak perlu tahu, kalau memang Ibu tak menghendakinya. Kita bisa berdoa untuk semua anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya, dan untuk semua orang tua yang mengabaikan anak-anaknya.”

Kulihat Ibu sedikit demi sedikit tersenyum.

“Ah, Dinda… Seandainya ibumu tahu sekarang kamu tumbuh sebagai gadis muda yang baik, dia pasti menyesal pernah menyerahkanmu di sini.”

“Ibu… Buatku… Ibuku itu .. Ibu.”

Dan kamipun berpelukan erat sekali.

 

– Jogja, Januari 2013 –

Image diambil dari sini

Advertisements

6 thoughts on “Ibuku itu Ibu

Komennya dong, Kakak ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s